Lain-lain
 
Rabu, 24/06/2015
SUKSES MENJADIKAN MOTIF BATIK SEBAGAI SOFT POWER NKRI

Bermula dari ketertarikan mengembangkan hobi melukis dengan konsep Fusion art Batik (penggabungan seni batik), Ekhsan (46) bersama rekan satu tim mulai membuat classic box, classic paper bag, greeting card, dan produk cetak motif batik lainnya dengan media kertas dan diaplikasikan pada kemasan produk dengan teknik cetak timbul “thermography hand printing”.

“Dari awalnya hanya hobi ternyata mendapat respon dari kawan-kawan pelanggan serta pasar yang sangat positif. Berkembanglah menjadi usaha Batik76 hingga saat ini memiliki 68 outlet tersebar di mall-mall besar di seluruh Indonesia,” kata Ekhsan.

Dimulai dengan promosi dari mulut ke mulut, dulunya Ekhsan hanya melakukan aktivitas produksi untuk memenuhi pesanan mengingat modal yang Ia miliki cukup terbatas yaitu kurang dari Rp 10 juta. Namun melihat permintaan pasar yang semakin luas, salah satu pelanggan di Kemang Jakarta Selatan menyarankan Ekhsan untuk memasok ChikMart Kemang yang ternyata pertumbuhannya sangat baik.

“Modal bertambah akhirnya retail kami kembangkan, masuk di seluruh toko buku Gramedia, Kinokuniya Bookstore, Alun Alun Indonesia Kreasi, Sogo dan lain-lain, kini produk kami telah tersebar hingga 68 outlet di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk direct-selling, kini semakin diminati anak-anak muda dan mahasiswa,” tuturnya.

Tak bisa tinggal diam melihat pertumbuhan pasar yang sangat positif, Ekhsan mulai menjalankan sistem pemasaran online hingga berkembang masuk ke pasar asing seperti misalnya Germany, Japan, dan Australia. “Kami ingin menjadikan motif batik berfilosofi (legendaris) terwujud sebagai soft power NKRI yang semakin dicintai oleh masyarakat modern Indonesia dan dunia saat ini,” imbuh pengusaha sukses yang satu ini.

Mengajak Generasi Muda Bangga Menggunakan Batik
Proses pembuatan kreasi Batik76Dalam menjalankan bisnis kreasi batik ini, tantangan terbesar bagi Ekhsan adalah sulitnya mengajak generasi Indonesia untuk lebih kreatif dan bangga menggunakan serta menikmati kekayaan Indonesia yakni batik sebagai karya Adiluhung. “Cara mengatasi tantangan ini yaitu dengan terus berkreasi dan berkarya dengan lebih kreatif untuk menjawab dan memenuhi permintaan pasar,” ungkap Ekhsan.

Melibatkan kalangan anak muda dalam menjalankan bisnis batiknya, meliputi tenaga cetak 3 orang, tim desain 2 orang, dan tenaga produksi 3 orang, setiap harinya Ekhsan mampu memenuhi kebutuhan pasar di 68 outlet seluruh Indonesia dan melayani seluruh pemesanan via online. Kedepannya Ekhsan berharap bisa memberikan peluang usaha kepada siapa saja apapun profesinya untuk menggarap pasar yang masih sangat-sangat luas ini

“Melalui batik, kami pernah diundang pertemuan UNESCO untuk memperkenalkan budaya batik di New Zeland, Australia. Pada pertemuan ini, BATIK76 menjadi semakin dikenal dan diminati. Kami pun sempat sangat sibuk memenuhi permintaan. Bisnis yang menguntungkan ini akhirnya bisa mengangkat kehidupan kami semakin bernilai dan semakin baik,” jelas pengusaha yang sering diundang ke luar negeri untuk memperkenalkan budaya batik Indonesia tersebut.

Kendati sekarang ini persaingan bisnis batik di Indonesia semakin sesak, namun bagi Ekhsan bisnis adalah pertandingan terbuka. “Saat pertandingan dimulai berhentilah berteori. Segera lakukan yang terbaik, tidak ada alasan, tidak ada yang bisa disalahkan. Apabila kalah, berarti belum melakukan yang terbaik. Segera perbaiki dan ikut pertandingan berikutnya untuk menjadi yang terbaik atau tidak sama sekali,” pesan Ekhsan menutup sesi wawancara kami.

Sumber : bisnisukm.com

Kembali | Lihat Semua