Lain-lain
 
Selasa, 12/05/2015
YUK, DARI FOOD TRUCK MENJAMU WAHYU SANG PEJUANG

Bro dan sis, pagi ini kita beruntung karena di hadapan kita telah terhidang kopi. Yang bikin hari ini agak berbeda karena kopi yang dihidangkan pun berbeda. Ya, ini adalah kopi seduh dingin alias cold brew coffee. Meskipun kopi dingin, minuman kita ini bukanlah kopi yang dicampur dengan es batu. Cold brew merupakan salah satu metode menyeduh kopi. Bila rata-rata kopi diseduh dengan air panas, dengan metode ini kopi diseduh dengan air bersuhu kamar atau air dingin. Waktu penyeduhan bisa berlangsung antara 12–24 jam. Setelah diseduh, hasilnya adalah kopi konsentrat yang dapat dinikmati dengan tambahan susu atau es.

Salah satu yang menyediakan menu kopi seduh dingin adalah No Sleep Coffee, yang juga menjadi pelopor produk cold brew coffee di Jakarta. Merek kopi dingin ini diperkenalkan Riska Ilmi, Ardianto Putra, Gian, dan Pulung Aldila. Riska bercerita, mereka berempat bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Malaysia dan merupakan penggemar kopi. Bahkan Pulung sempat belajar pembuatan cold brew coffee di luar negeri.Ada dua varian kopi dingin seduh No Sleep Coffee, yakni long black dan ice latte. Harga kopi siap minum dalam setiap kemasan berukuran 300 ml adalah Rp 25.000 per botol. Awalnya, No Sleep Coffee ditawarkan ke kerabat dan kenalan para pendirinya. Lama-kelamaan semakin banyak yang pesan.

Dulu barista No Sleep Coffee hanya membuat 80 botol kopi per minggu, kini order meningkat pesat jadi 1.000–1.500 botol saban bulan. Menurut penuturan Riska, sepanjang 2014, ia dan teman-teman bisa mengantongi omzet Rp 500 juta. Adapun margin keuntungan dari bisnis ini bisa mencapai 100%. “Seperti produk F&B lain, cold brew coffee ini marginnya 100%,” cetusnya.Sruuut! Enak juga menyeruput kopi jenis ini, kita tak perlu khawatir bibir kita akan tersentuh air panas. Segar sekali. Kalau sudah segar, kita sikat iga panggang yuk. Kontan.co.id sudah menyediakan hidangan dari Iga Panggang Panglima.

Adalah Budi Marsanto yang mengusung merek Iga Panggang Panglima. Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 2006 di Panglima Polim, Jakarta Selatan. Setelah dua tahun berjalan, akhirnya Iga Panggang Panglima pindah ke Gandaria.Olahan iga yang disajikan Iga Panggang Panglima dijamin mamamia lezato. Soalnya, si peracik iga panggang ini, Budi Marsanto, memiliki pengalaman mumpuni soal meracik makanan. Budi pernah bekerja selama enam tahun di restoran yang menyajikan menu steik dan iga di Australia.

Jika Anda kesengsem sama lezatnya Iga Panggang Panglima, Budi membuka kesempatan untuk menjadi mitra usaha. Anda cukup menyediakan dana senilai Rp 100 juta. Budi tidak memungut biaya royalti. Hanya, mitra wajib memasok bahan baku utama seperti iga sapi, daging sapi, dan bumbu dari pusat. Untuk makanan pendamping seperti kentang dan sayuran bisa diambil dari tempat lain. Harga jual menu makanannya dibanderol di bawah Rp 100.000 per porsi. Targetnya rata-rata 50 porsi iga terjual saban hari dengan estimasi omzet sekitar Rp 4 jutaRp 5 juta per hari. Alhasil, omzet dalam sebulan bisa mencapai Rp 150 juta. "Kalau lokasinya ramai pengunjung, omzetnya bisa melebihi Rp 100 juta dengan laba bersih 30%. Balik modal bisa ditaksir sekitar setahun," kata Budi.



Terima kasih Budi atas iga panggangnya. Masih pengin makan, yuk kita beli sushi. Kebetulan di depan ada food truck yang lagi parkir. Tapi, tahu enggak beda food truck sama moko alias mobil toko. Pasti tahu. Kalau food truck, di dalam mobil ada aktivitas masak-memasak; kalau moko, biasanya hanya menjadi tempat menata produk yang akan dijual.Food truck mulai ramai sejak 2013. Jika tahun sebelumnya jumlah food truck bisa dihitung dengan jari, saat ini, menurut Asosiasi Food Truck Indonesia, sudah lebih dari 40 unit food truck yang tersebar di Jakarta.

Food truck kerap jadi pusat perhatian lantaran desain mobil yang unik. Di balik desain yang unik itu ternyata ada jasa karoseri. Salah satu yang kecipratan rezeki pembuatan food truck adalah PT Delimajaya Carrosserie Industry di Bogor, Jawa Barat. Winston Wiyanta, Managing Director PT Delimajaya Carrosserie Industry, mengatakan, perusahaannya mulai menerima pesanan pembuatan food truck sejak 2013.Delimajaya sudah membuat 30 unit food truck sejak 2013. Winston bilang, food truck tak hanya dipesan oleh pengusaha baru. Ada juga restoran yang sudah melirik usaha food truck. Misalnya saja, Bakmi GM, Sushi Tei, Bebek Dower, Roti O, Fat Belly, Sabroso Pollo, dan Steak Holycow. “Food truck bukan hanya kendaraan niaga, tapi juga media promosi untuk restoran tersebut,” ujar Winston.

Delimajaya membanderol food truck seharga Rp 225 juta–Rp 325 juta untuk tipe kecil, Rp 400 juta–Rp 550 juta untuk tipe sedang, dan Rp 600 juta–Rp 750 juta untuk tipe besar. Harga tersebut sudah termasuk sasis kendaraanTetapi, Delimajaya juga bisa memodifikasi mobil seken milik klien menjadi food truck. Tarif pembuatan ada di kisaran Rp 75 juta–Rp 250 juta, tergantung jenis kendaraan. Harga dan tarif tersebut belum termasuk peralatan dapur yang akan dipasang dalam mobil. “Untuk kitchen equipment, klien cukup menambah biaya kurang dari Rp 75 juta,” cetus dia.

Winston mengatakan, dari pembuatan food truck, Delimajaya bisa meraup margin keuntungan sekitar 15%. Menurut Winston, food truck bisa jadi peluang usaha bagi pemilik karoseriKalau begitu, ayo kita terus melaju dengan food truck. Kita mau ke Bandung mau menemui Wahyu Adji Setiawan. Dia memproduksi dan menjual tas dengan merek sendiri, yaitu Evrawood. Harga jual tasnya di Indonesia mulai Rp 400.000, untuk pasar luar negeri harga jualnya berkisar Rp 1,8 juta–Rp 2,5 juta. Saban bulannya, Adji bisa memproduksi seribu unit tas. Kebayang dong berapa omzetnya Adji.

Tapi, sukses enggak datang begitu saja. Adji juga sempat merasakan pahit getirnya berusaha. Sejak duduk di bangku SMU, Adji sudah biasa berjualan untuk menambah uang sakunya. Bisnis tas yang digelutinya sekarang berawal dari pesanan tas dari seorang dosen ketika kuliah dulu pada sekitar tahun 2006.

Dari sinilah pria kelahiran Kebumen, 10 Maret 1986, melihat usaha membuat tas ternyata lebih mudah dibandingkan usaha kaos yang digeluti. Di konveksi banyak kendalanya, selain banyak ukuran, sering terjadi revisi yang membuang banyak waktu dan tenaga.Akhirnya, dia memutuskan banting setir bidang usaha, yakni pembuatan tas pada awal 2010. Tasnya dimereki Ortiz. Dia sempat mendapat kontrak dari pembeli sebanyak 6.000 tas selama setahun. Namun, pada pertengahan 2010, Adji mendapat somasi dari pemilik merek sah Ortiz, yakni sebuah perusahaan mode ternama dari Spanyol.
Tak mau membayar denda sebesar Rp 7 miliar, awal 2011 Adji membangun kembali bisnisnya. Kali ini, dia mematenkan merek Evrawood, langsung ke Singapura. Dia merekrut orang-orang baru sebagai tim Evrawood. Selain di Indonesia, saat ini, tas kasual urban Evrawood sudah dipasarkan di beberapa negara, seperti Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia. Ah, jadi pengin seperti Adji. Nah, biar kita bisa punya waktu banyak untuk merenung ide bisnis apa yang akan kita jalani, bagaimana kalau kita berpisah dulu. Selamat berakhir pekan, semoga akhir pekan bro dan sis menyenangkan.

Sumber : Peluangusaha.kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua