Lain-lain
 
Rabu, 31/03/2015
SEPEKAN PELUANG USAHA: BUKA USAHA BERMODAL ISENG

Selamat pagi, kita ketemu lagi. Tapi, minta maaf nih, kalau pagi ini kita enggak makan-makan. Lagi pula kalau makan melulu nanti kita menderita obesitas. Kalau kita sakit bagaimana? Wah, modus, bilang saja pelit. Kalau dibilang pelit, di situ kadang merasa sedih. Tapi, enggaklah, kita emang enggak makan-makan sendiri , tapi kita mau makan-makan di Bintaro. Yuk!
Di Bintaro sektor 7 ada tempat nongkrong yang enak. Namanya BIntaro Peoples Market alias BPM. Tempatnya lumayan luas, 1.500 m2. Di tempat ini selain ada restoran juga ada 13 kios atau stall yang masing-masing menjual makanan atau minuman yang berbeda. Kalau bawa kendaraan, jangan takut tempat parkirnya luas. Jadi, kalau kita keluar dari kendaraan terus pengen salto atau guling-guling masih bisa. Lebay banget sih. Lagi pula siapa coba yang mau salto apa guling-guling di tempat umum.
Adalah Muchlis Yusuf yang menggagas konsep baru tempat nongkrong. Sebenarnya, dulu lokasi tempat nongkrong ini digunakan hanya untuk restoran Burger ‘n Grill miliknya. Namun, Muchlis berpikir—berpikir nih yee—saingannya makin banyak. “Di mal yang satu ada 30 tempat makan, sementara di mal yang lain lagi ada 50 tempat makan, jadi kami merasa tak boleh kalah saing,” kata Muchlis.
Lantas saja Muchlis memugar restorannya. Ia membangun beberapa kios atau stall untuk disewakan. Letaknya tidak hanya di dalam ruangan tapi juga di luar ruangan dekat lapangan parkir. Total kios yang disewakan berjumlah 13 buah. Masing-masing kios diisi oleh pengusaha makanan dan distro yang rata-rata berdomisili di Bintaro. Muchlis mengaku merogoh kocek Rp 2 miliar untuk mengubah konsep restorannya menjadi tempat nongkrong.
Biaya sewa kiosnya Rp 4 juta– Rp 12 juta per bulan. Tapi, pemasukan Muchlis bukan hanya dari penyewaan kios, Burger ‘n Grill masih menjual makanan dan minuman. Dari restoran, Muchlis bisa mengantongi omzet Rp 200 juta per bulan. Targetnya, Bintaro Peoples Market sudah balik modal dalam lima tahun. Semoga tercapai bro!
Sekarang kita temui Ali Akbar Taufani. Untuk diajak makan di BPM? Bukan. Kita cuma pengen tahu sama Rumah Denim dan Jeans miliknya itu. Ali mengawali usahanya secara tak sengaja. Ceritanya waktu itu dia iseng menjahit celana mencontek model celana jins temannya dari Australia. Eh, tak disangka banyak temannya yang suka dan memesan. Ya sudah, Ali melayani pesanan teman-temannya itu hingga menjadi Rumah Denim dan Jeans.
Sejak 2011 Ali telah membuka tiga cabang Rumah Denim dan Jeans. Masing-masing di Jakarta Selatan (Gandaria City dan Bintaro), serta Tangerang Selatan (Pamulang). Dalam waktu dekat, Ali akan membuka cabang di Bali.
Saban bulan, Ali sanggup menyelesaikan 1.000 helai pakaian jins di ketiga rumah produksinya. “Kalau ramai bisa berlipat hingga 3.000 potong,” ujar dia. Banderol harga jins pesanan itu mulai Rp 165.000–Rp 750.000. Biasanya pesanan ramai berdatangan saat Idul Fitri, Natal, tahun baru, dan Valentine Day.
Dari bisnis ini, perolehan omzet Rumah Denim dan Jeans cukup besar. Ali bilang, saat ramai pesanan omzet berkisar Rp 250 juta hingga Rp 300 juta. Adapun omzet rata-rata per bulan mencapai Rp 100 juta.
Sekarang ayo kita pakai celana jins jahitan si Ali, kita kan mau pergi. Pakai kaus kaki dan sepatu dulu ah. Ini kaus dan sepatu bikinan Taufik Rahman lo. Itu lo pengusaha kaus kaki dan sepatu yang saban bulannya bisa memproduksi 250.000 pasang kaus kaki dan 1.000 pasang sepatu.
Usaha kaus kaki dan sepatunya agaknya merupakan proses terakhir dari pencarian usaha Taufik. Artinya dia pernah menjalani beberapa usaha tapi selalu gagal. Aisyah, istrinya, sampai mengatakan mungkin rezekinya bukan jadi pengusaha melainkan jadi karyawan.
Memang, sebelumnya Taufik cukup lama bekerja sebagai tenaga pemasar, 20 tahun. Setelah merasakan kariernya mentok sebagai general manager marketing di sebuah perusahaan, dia pun berkeinginan menjadi pengusaha. Setelah gagal berbisnis, atas nasihat istrinya, dia pun bekerja kembali di pemasaran. Namun, gelora jiwa wirausaha begitu menggebu. Taufik keluar lagi dari pekerjaannya.
Pada 2003, Taufiq mencium potensi besar dari usaha pembuatan kaus kaki. Dari pengalaman enam tahun bekerja di pabrik kaus kaki, uang pesangon sebesar Rp 40 juta dari perusahaan tempatnya bekerja ia jadikan modal awal.
Namun, jangan salah ya, kaus kaki Taufik berbeda. Kaus kaki Taufiq terbuat dari serat bambu, yang sudah lazim di luar negeri. Tahun ini, Taufiq akan meluncurkan produk baru, yakni sepatu dari kulit katak lembu (bullfrog). Taufiq mengklaim, sepatunya merupakan produk pertama dari bahan tersebut. Inovasi, inovasi, inovasi, itu agaknya yang akan selelau dilakukan Taufik. Dia begitu yakin dengan produk inovatif akan bisa memenangi persaingan.
Namun, untuk menjalankan mesin guna memproduksi kaus kaki dan sepatu, Taufik tentu perlu kabel. Nah, ngomong-ngomong soal kabel, masih terbuka lebar peluang di sektor ini. Yuk kita masuk. Eit, sayangnya, untuk terjun sebagai produsen kabel butuh duit miliaran. Enggak percaya? Tanya saja sama Gatot Puguh Bayuaji.
Menurut Gatot , produksi kabel harus dalam skala pabrik. Artinya, usaha ini tidak bisa dimulai dari skala kecil-menengah. Soalnya, harga mesin untuk memproduksi kabel saja sudah miliaran rupiah. Jadi, berapa tepatnya modal yang diperlukan untuk bikin pabrik kabel?
Gatot, yang pemilik PT Central Wire Industrial (CWI), melanjutkan, untuk merintis pabrik pembuatan kabel, modal yang diperlukan bisa mencapai Rp 11 miliar. Modal itu digunakan untuk menyewa tanah, membangun pabrik, membeli mesin dan bahan baku, serta mengurus perizinan. Pabriknya yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, sudah memproduksi kabel bermerek Yunitomo sejak 2003.
Mahal banget usaha yang satu ini. Kecewa ya enggak bisa ikut main di produksi kabel. Enggak usaha kecewa masih banyak peluang usaha yang bisa kita jalankan. Kalau enggak bisa dijalankan, ya dititah aja. Kita bubaran dulu ya. Selamat berakhir pekan. Sumber : bisnisukm.com

Kembali | Lihat Semua