Lain-lain
 
Minggu, 30/07/2011
DARI LAB KECIL HASILKAN SABUN RAMAH LINGKUNGAN

Dengan mengangkat konsep ramah lingkungan, Gerai Green Indonesia memproduksi sejumlah produk rumah tangga yang ramah lingkungan. "Kami masih mikro, cuma berlima. (Bahkan) yang aktif cuma berdua. Produksi di lab (laboratorium) kecil di sebelah rumah," ujar Wawan salah satu staf dari Gerai Green Indonesia kepada Kompas.com, dalam acara Sedap Mighty Culinary, di Senayan, Minggu ( 24/7/2011 ).

Sejauh ini, Gerai Green Indonesia telah mengeluarkan enam produk ramah lingkungan, dengan produk eco soap sebagai produk utama. Kelima produk lainnya yaitu minyak lampu e-fuel, serbuk pengusir semut dan kecoa, mosquito repellent dan massage oil, bio alkohol, dan fantastic plastic. "Tahun ini, kita baru keluarkan smart green cleaner (produk pembersih rumah tangga)," tambahnya.

Sebenarnya, aku dia, produk ini bermula dari penelitian. "(Ini dimulai dari) Ibu Tres-nya (yang merupakan salah satu pengurus Green General dari Gerai Green Indonesia) itu peneliti. Dan, (penelitian) sudah mulai dari 2004 . Cuma baru dipromosikan dari 2009 ," tambah dia.

Selama itu, pemasaran sifatnya lebih forma atau resmi melalui seminar. Dan, jarang ikut pameran. Baru setelah tahun 2009 , Gerai Green Indonesia melakukan promosi melalui media online juga menghadiri sejumlah pameran, ataupun mempunyai gerai di gedung UMKM Smesco, Gatot Subroto.

Apa sebenarnya produk eco soap ini? "Saya pakai (bahan baku) yang lebih sederhana, tidak perlu pakai turunan bahan kimia (seperti halnya produk sabun lainnya)," ujar dia.

Bahan tersebut merupakan minyak kelapa biasa. Dari segi harga, produk yang berbahan baku dari minyak kelapa biasa ini, memang terbilang lebih mahal. "Bahan baku sih gampang, tapi harganya (kelapa biasa) nggak semurah (kelapa) sawit," sebut dia, yang biasa mendapat pasokan minyak kelapa dari daerah pesisir di Jawa Barat dan Tengah.

"Kami bina orang, pesan dari Tasikmalaya, pesisir pantai Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ya, dari daerah Pantai Selatan. Dalam bentuk minyak kelapa," ungkapnya.

Namun, ia dengan tim juga membuat minyak kelapa sendiri. Sehingga perbandingan persentase minyak kelapa yang dipesan dengan yang dibuat sendiri biasanya sekitar 75:25. "Tergantung kondisi pesanan kalau masih bisa nangani (ya buat sendiri)," ujar dia.

Apalagi, lanjut dia, kalau menjelang Lebaran biasanya harga kelapa naik, maka akan dibuat semacam stok minyak kelapa. Pembuatan minyak ini juga tidak terbilang mudah. Ia mengaku pembuatannya dapat memakan waktu dua malam dan harus dilakukan dengan hati-hati, supaya minyak tidak tengik.

Sekarang ini, khususnya sejak tahun 2010 , terutama 2011 , penjualan terus mengalami peningkatan. "Saya banyak sambutan dari luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera," sebutnya.

Untuk daerah turis seperti Bali, ia mengaku tidak banyak pemasaran ke wilayah itu. Ia berasumsi karena Bali sudah banyak produk perawatan sejenis, seperti aneka produk spa.

Apa kelebihannya? "Kalau melihat medium chain-nya (rantai molekul) kelapa lebih pendek dari (kelapa) sawit. Semakin pendek rantai, semakin mudah diurai tanah," ungkap dia.

"Bersih dan kesat. Busanya tidak berlimpah, jadi irit air," ujar dia menyebutkan tanggapan dari konsumen yang memakainya, di mana 90 persen adalah wanita.

Harga eceran sabun tersebut, untuk sabun dengan berat 40-50 gram seharga Rp 5.000. Sementara, sabun dengan berat 100 gram, harganya Rp 8.000. Dari harga jual tersebut, biaya produksinya sekitar 25-30 persen. "Biaya produksi jatuh lebih banyak ke minyak kelapa," tambahnya.

Ia menuturkan, bisa saja harganya ditekan lebih murah. Tapi bahan bakunya harus dicampur, dan ia belum mau melakukan hal itu. Karena memang mau menonjolkan bahan baku yang murni. Ke depannya, ia yang berlatarbelakang sarjana kimia ini, mengaku belum mau masuk dalam penjualan mainstream. Ini karena produksinya yang masih kecil dan belum konsisten. "Masuk pasar, otomatis (produksi) konsisten, tambah alat, orang, dan sebagainya," sebutnya.

Sejauh ini, dalam sehari, ia mengaku bisa menghasilkan 200 batang sabun. Untuk pengemasan pun, ia dan tim dibantu dengan sejumlah pekerja rumah tangga. Produk ramah lingkungan ini juga sudah mulai dikenalkan di Canada, Amerika Serikat, dan Australia. "Tapi baru pembicaraan saja," ujarnya.

Sumber : Kompas

Kembali | Lihat Semua