Lain-lain
 
Sabtu, 27/09/2014
BAWANG GORENG MBOK SRI MAKIN KESOHOR

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, bawang goreng Mbok Sri sudah sangat terkenal. Bahkan, bagi sebagian besar orang yang berkunjung ke kota ini, tidak afdal rasanya bila tidak membawa oleh-oleh bawang goreng Mbok Sri.

Bawang goreng Mbok Sri terkenal karena rasanya enak, renyah, crispy, dan gurih. Mbok Sri sudah merintis usaha ini sejak tahun 1980. Usianya sendiri sekarang sudah 82 tahun. Lantaran fisiknya sudah tidak kuat, kini ia mewariskan usahanya tersebut ke salah seorang cucunya yang bernama M. Suwarno.

Pria lulusan Universitas Tadulako, Palu ini mewarisi bisnis bawang goreng dari sang nenek sejak tahun 2010 lalu. "Saat itu, Mbok meminta saya meneruskan usahanya karena sudah merasa tidak kuat menjalankannya lagi," katanya kepada KONTAN.

Tak bisa dipungkiri, bawang goreng mbok Sri sudah menjadi ikon Kota Palu. Di tangan Suwarno, bisnis bawang goreng ini semakin berkembang. Saat mengawali usahanya, Mbok Sri memproduksi sendiri bawang miliknya.

Hingga saat ini, proses produksi dan penjualan masih dilakukan di rumahnya yang berlokasi di perumahan BTN Mutiara Indah blok E, No.3.Selain bawang goreng, Mbok Sri juga memproduksi oleh-oleh khas Palu lainnya, seperti abon ikan, abon daging, aneka camilan, dan sarung tenun. Toko atau kios bawang goreng Mbok Sri ini menyatu dengan tempat kediamannya.

Lantaran sudah kesohor, toko kecil yang berada tepat disamping rumahnya ini tidak pernah berhenti dikunjungi oleh pembeli. Suwarno membanderol harga bawang gorengnya sekitar Rp 200.000 per kilogram (kg). Sedangkan abon daging sapi dihargai Rp 350.000 kg, dan abon ikan sekitar Rp 250.000 per kg.

Untuk produk lainnya, Suwarno banyak mengambil dari orang lain. Suwarno bilang, banyak konsumennya berasal dari warga Palu yang sengaja membeli bawang goreng untuk oleh-oleh kerabatnya di luar kota. Selain itu, banyak juga wisatawan lokal yang sengaja mampir untuk membeli bawang goreng.

Mereka berasal dari Jakarta, Manado, Jawa dan lainnya. Kendati sudah kesohor dan konsumennya datang dari berbagai daerah, produksi bawang goreng Mbok Sri hanya dilakukan tiga kali dalam setahun.Menurut Suwarno, mereka hanya memproduksi bawang goreng saat panen bawang. Kebetulan yang digunakan jenis bawang batu yang hanya tumbuh di satu lembah di daerah Palu.

Untuk keperluan produksi, dalam setahun, Suwarno bisa menghabiskan 60 ton bawang batu. Dari jumlah itu, paling hanya menghasilkan sekitar 18 ton bawang goreng. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, Suwarno menjalin kerjasama dengan 20 petani yang ada di sana.Dengan produksi sebanyak itu, ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 200 juta per bulan. Sayang, Suwarno enggan menyebut porsi laba bersih yang didapatnya.

Meski jumlah produksinya terbilang besar, Suwarno merasa masih kewalahan memenuhi kebutuhan pasar lokal. "Ini yang membuat saya belum mau berpikir untuk ekspor," jelasnya.

Sumber : Peluangusaha.kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua