Lain-lain
 
Kamis, 17/09/2014
BERAWAL HOBI, TONNY SUKSES DI BISNIS FOTO UDARA

Boleh dibilang, Tonny Wirawan merupakan perintis jasa foto udara di Indonesia. Berawal dari hobinya di dunia aeromodelling, Tonny pun sempat mengerjakan foto udara untuk sebuah perusahaan media pada 1976.

Hobinya di dunia aeromodelling bukan tanpa kebetulan. Ayahnya saya saat itu memiliki sebuah toko aeromodelling.
"Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan alat-alat tersebut dan bereksperimen dengan membuat foto aeromodelling," ujarnya.
Saat itu, ia sudah melihat ada prospek yang menjanjikan dari foto udara. Namun, ia baru memiliki kesempatan terjun ke bidang ini secara profesional di tahun 1994.

Ketika itu ia baru saja menamatkan kuliah di Universitas Sahid, Jakarta. Tonny merintis bisnis ini bersama dengan beberapa rekannya. Saat itu, belum ada peralatan dengan sistem secanggih seperti sekarang. Dulu, ia menggunakan pesawat terbang dengan sistem air remote.
"Itu membutuhkan keahlian jari untuk mengendalikan remote, berbeda dengan peralatan sekarang yang lebih mudah, dengan menggunakan global positioning system (GPS), atau akselerator," jelasnya.

Sebagai pemain lamanya, namanya sudah cukup dikenal di bisnis ini. Banyak kliennya berasal dari pengembang properti besar, seperti Ciputra, Sinar Mas, Intiland, hingga kontraktor.
Kebanyakan perusahaan ini memakai jasanya untuk keperluaan pemetaan suatu kawasan. "Dan itu hanya bisa digunakan melalui foto udara," jelasnya.

Meski sempat berjaya, usahanya pernah mengalami pasang surut. Menjelang tahun 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, banyak perusahaan gulung tikar. Begitu pun bisnis foto udara yang ia rintis mengalami vakum.
Namun, semangat dan harapannya tak pupus. Pada tahun 1999, ia kembali membuka usaha baru, yakni jasa balon udara dan kamera dengan mengusung nama Zepellin Indonesia.

Jasa ini tetap menggunakan konsep aero modelling sebagai remote control untuk membantu menerbangkan balon udara tersebut.Kemudian, pada tahun 2001 hingga sekarang, Tonny kembali membuka jasa foto udara. Ia menawarkan dua jasa foto udara. Pertama, foto bird eye view yang digunakan untuk membuat profil perusahaan atau promosi.

Kedua, foto mapping atau tegak lurus. Jenis foto yang bisa mencapai ketinggian 10.000 meter ini biasanya digunakan untuk keperluan pembangunan, pelebaran pabrik, dan ekspansi tanah.
Untuk jasa foto bird eye view, ia banderol mulai kisaran harga Rp 5,5 juta. Sedangkan jasa mapping dihargai Rp 1,85 juta per hektar.
Dari jasa foto udara ini, ia bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 75 juta hingga Rp 100 juta per bulan. Adapun, profit yang diraihnya bisa mencapai 50%60% dari omzet bulanan.

Ia mengakui, saat ini persaingan jasa foto udara semakin ketat. Namun, peluang pasar juga semakin besar. Dengan potensi yang terus membesar ini, ia berkomitmen untuk terus menekuni bidang foto udara.
Rencananya, ia juga akan menambah jasa video udara dalam portofolio bisnisnya. Ia pun sudah membeli kamera Go Pro dan mempersiapkan peralatan terbangnya.

Sumber : peluangusaha.kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua