Lain-lain
 
Kamis, 27/08/2014
FULUS TERUS MELUNCUR DARI ARENA SELUNCUR ES

Olah raga seluncur es atau ice skating memang belum terlalu populer di Indonesia. Masyarakat masih melihat ice skating sebagai salah satu sarana rekreasi. Pasalnya, semua arena ice skating yang ada di Indonesia berada di dalam pusat perbelanjaan. Tak heran bila banyak orang masih menganggap seluncur es sebagai alternatif tempat hiburan.
Selain itu, mal yang menyajikan arena ice skating ini juga masih terbatas. Bahkan, boleh dibilang, keberadaan arena ini masih terpusat di mal-mal yang tersebar di ibukota. Dus, mengelola arena ice skating bisa menjadi peluang usaha menarik. Persaingan masih longgar.
Tengok saja, saat ini, terhitung baru ada tiga arena ice skating di Indonesia. Salah satu arena seluncur es pertama yakni Sky Rink berada di Mal Taman Anggrek (MTA), Jakarta Barat. Sky Rink berdiri sejak 1996 dengan luas 1.248 m2. Pembangunannya bersamaan dengan MTA.
Agustina H. Wisnu, Marketing Promotion Sky Rink, mengklaim bahwa Sky Rink menjadi pionir arena seluncur dan usahanya bertahan paling lama. Selama 18 tahun mengelola Sky Rink, perempuan yang akrab disapa Tina ini bilang, setiap tahun selalu terjadi peningkatan jumlah pengunjung. Meski sekitar lima tahun lalu Sky Rink sempat sepi pengunjung karena tergerus oleh tren tempat gym di ibu kota, “Namun, tiga tahun terakhir terjadi kenaikan jumlah pengunjung lagi,” kata dia.
Pada hari biasa, setidaknya ada sekitar 200 orang–400 orang yang mengunjungi Sky Rink. Jumlah ini akan meningkat pesat pada akhir pekan, menjadi sekitar 1.000 orang pengunjung. Mayoritas pengunjung Sky Rink merupakan pelajar sekolah dan mahasiswa.
Adapun tarif yang dikenakan untuk dua jam berseluncur di Sky Rink adalah Rp 60.000 pada hari biasa dan Rp 70.000 selama akhir pekan. Tina bilang, tarif itu ditetapkan dengan pertimbangan sesuai dengan isi kantong pelajar.
Tak hanya menawarkan arena seluncur, Sky Rink juga menyediakan sekolah ice skating bagi orang yang tertarik mendalami olah raga seluncur es. Kurikulumnya mengikuti Ice Skating Institute (ISI) yang berpusat di Amerika Serikat (AS). Tina mengatakan, untuk mengikuti sekolah ini, siswanya dikenai biaya Rp 100.000 hingga Rp 540.000 per setengah jam. Siswa bisa memilih, mau didampingi secara personal atau dalam grup. Hingga kini, Sky Rink telah mengajar belasan ribu siswa. Namun yang aktif saat ini mencapai 500 orang.
Wahana seluncur es lain berada di kawasan Bintaro, Tangerang, yakni Bx Rink. Tempat ice skating ini juga dibangun bersamaan dengan pembangunan mal Bintaro Xchange. “Arena ice skating memang sudah menjadi bagian dalam rencana pembangunan mal,” tutur Wiwin Darmawan Salim, Manager Bx Rink.
Wiwin mengatakan, pertumbuhan mal di Jabodetabek sangat pesat dengan isi tenant yang mirip. Sementara itu, Real Jaya Property sebagai developer menginginkan sesuatu yang membedakan Bintaro Xchange dengan mal lainnya yang menyediakan arena berolah raga . “Pilihannya waktu itu ada boling atau biliar, tapi akhirnya kami memutuskan membangun ice rink,” kata Wiwin.
Salah satu pertimbangannya, jumlah arena ice skating di Indonesia masih minim. Selain itu, Wiwin melihat animo masyarakat terhadap portable ice rink yang ada di beberapa pusat perbelanjaan cukup tinggi. Akhirnya, Real Jaya Property memberanikan diri membuka arena ini secara permanen.
Luas arena Bx Rink mencapai 1.380 m2. Jam operasionalnya sama dengan jam operasional mal, yakni mulai pukul 10.00 hingga 22.00. Adapun jumlah pengunjung mencapai 150 orang–300 orang pada hari biasa dan meningkat dua kali lipat sepanjang akhir pekan. Sementara itu, tarif yang dipatok Bx Rink sama dengan Sky Rink. Padahal, Bx Rink baru dibuka pada 18 Desember 2013.
Bx Rink juga membuka sekolah ice skating yang diberi nama Skating Academy. Wiwin bilang, tarif untuk belajar ice skating sekitar Rp 145.000–Rp 150.000 per 30 menit. Sekarang, jumlah murid Skating Academy sebanyak 200 orang.
Wiwin menampik anggapan ice skating sebagai hiburan bagi masyarakat kelas menengah ke atas saja. Menurut dia, tarif untuk menikmati berseluncur di atas es tak lebih mahal dari hiburan lain, seperti arena bermain di mal atau tempat wisata keluarga. “Hampir semua kalangan sebenarnya bisa coba, tapi citra ice skating mahal ini yang harus dihilangkan,” ucap pria berusia 38 tahun ini.
Margin keuntungan dari usaha juga cukup menggiurkan, yakni sebesar 30% dari omzet. Oleh karena itu, Tina bilang, Sky Rink sudah menikmati balik modal pada tahun ke-5 usaha itu berjalan. Apakah Anda tertarik untuk mencobanya?

Serba-impor
Baik Tina maupun Wiwin sepakat bahwa arena seluncur es sebaiknya dibangun di mal. Alasannya, ice skating bukan cabang olah raga utama di negeri ini. Jadi, masyarakat tidak akan tertarik untuk mengunjungi tempat khusus ice skating. “Sementara kalau di mal, orang bisa sekalian belanja atau makan,” kata Tina.
Lagi pula, pengembang mal sengaja membangun arena ice skating sebagai daya tarik mal tersebut. “Selain menguntungkan pengelola ice rink, ini juga menguntungkan pihak mal,” tandas Wiwin.
Lokasi mal juga menentukan. Tina berujar, salah satu faktor yang membuat Sky Rink bertahan selama 18 tahun ialah lokasinya yang dekat dengan banyak sekolah dan kampus. Makanya, Sky Rink sering mengadakan kerjasama dengan pihak sekolah. Mereka kerap memberi potongan harga bagi pelajar dan mahasiswa.
Lantaran peralatan untuk membangun arena ice skating kebanyakan diimpor, biaya investasinya cukup besar. Menurut perkiraan Tina, ketika membangun Sky Rink pada 1996, modal awal berkisar Rp 10 miliar. Investasi terbesar ada pada pembelian mesin chiller dari Jerman untuk membuat es tetap beku dan mobil pelapis es yang diimpor dari Kanada dengan merek Zamboni.
Sementara itu, persiapan membangun Bx Rink memakan waktu 1,5 tahun. Menurut Wiwin, fokus utama terletak pada pembangunan arena fisik seluncur es karena harus memenuhi standar internasional. Bx Rink bekerja sama dengan vendor dari Eropa yang memang sudah paham dalam mendirikan arena ice skating.
Es pada arena seluncur ini dibuat oleh mesin chiller. Menurut Tina, butuh waktu sekitar dua hari hingga tiga hari untuk membuat balok es pada arena ini. Namun, sebelum es dibekukan, lantai harus dilapisi dengan bahan-bahan yang anti-air untuk mencegah kebocoran.
Dus, Tina menyarankan, sebaiknya membangun ice rink sebelum mal jadi. Dengan begitu, pembangunan akan lebih mudah karena ada treatment khusus pada lantai yang hendak dilapisi es balok.
Chiller juga yang menjaga es tetap beku, sehingga mesin harus aktif sepanjang hari. “Makanya, biaya bulanan terbesar ada pada biaya listrik, bisa mencapai 45%,” tandas Wiwin. Pengeluaran besar lain adalah gaji karyawan. Saat ini Sky Rink mempekerjakan 75 karyawan, termasuk pelatih.
Wiwin bilang, untuk membangun arena ice skating, biayanya berkisar Rp 7 miliar–Rp 10 miliar. Namun, angka itu masih bertambah karena harus membangun ruangan lain, seperti ruang tunggu, ruang P3K, dan loker. “Modal yang dikeluarkan untuk itu bisa dua kali lipat dari biaya membangun arena ice skating saja,” ujarnya.
Agar es balok tetap rata, Sky Rink dan Bx Rink menggunakan mobil pelapis es. Dalam sehari, mobil ini digunakan empat hingga lima kali untuk melapisi dan meratakan es. Durasi pelapisan berkisar 15 menit–20 menit. Ketika es dilapisi, arena es ini harus dikosongkan. Oleh karena itu, butuh ruang tunggu pengunjung yang cukup luas dan nyaman.
Pelapisan es ini merupakan agenda operasional yang penting. Permukaan es yang tidak rata cukup berbahaya jika dibiarkan karena bisa melukai pengunjung yang terjatuh. Di samping itu, permukaan es yang tidak rata menyulitkan pengunjung dalam berseluncur.
Oleh karena itu, tiap ice rink harus punya mobil pelapis es. “Itu standarnya,” tegas Wiwin. Sky Rink memiliki empat unit mobil pelapis, sementara Bx Rink punya satu unit. Mobil ini akan memotong bagian tak rata dan mengisi balok es yang bolong dengan air.
Fasilitas lain yang disediakan oleh ice rink ialah sepatu seluncur. Sky Rink dan Bx Rink menyediakan lebih dari 1.000 pasang sepatu. Wiwin menambahkan, Bx Rink punya dua jenis sepatu, yakni sepatu khusus figure skating dan sepatu khusus hokey es. “Kami berikan pilihan sesuai kenyamanan pengunjung,” katanya.

Seleksi pelatih
Setelah bangunan fisik jadi, hal yang tak kalah penting ialah merekrut dan menyeleksi para pelatih seluncur es. Menurut Wiwin, cara paling gampang adalah merekrut pelatih yang memang sudah ahli, meskipun dari luar negeri.
Demikian pula dengan Sky Rink. Tina bilang, awalnya pelatih seluncur es di Sky Rink merupakan orang asing dari berbagai negara, seperti Amerika dan China. Para ahli ini yang kemudian melatih orang-orang baru agar terjadi regenerasi pelatih di Sky Rink. Tina juga mengatakan, Sky Rink tak segan merekrut pelatih lulusan Skating School milik mereka. “Tentu saja murid yang sudah ada di level atas, yang sudah bisa free style,” ujar Tina.
Ketika sudah menjadi pelatih pun, mereka tetap harus mengikut pelatihan di Bx Rink. Bahkan, setiap minggu, Sky Rink mengadakan pelatihan untuk para pelatihnya. Menurut Tina, untuk menjadi pelatih seluncur es, bukan saja keterampilan yang diperlukan. Kemampuan untuk sabar mengajar juga harus dimiliki pelatih. “Pelatih ini kan menghadapi kebanyakan anak-anak sekolah, yang tidak semuanya sudah jago jadi mereka pun harus sabar mengajari anak-anak ini,” pungkasnya.
Nah, siapkah Anda meluncur di atas laba?

Peluangusaha.kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua