Lain-lain
 
Sabtu, 28/05/2011
PASAR SENEN BATAK TEMPAT FAVORIT BERBURU ULOS DI JAKARTA

Pasar Inpres Senen Blok IV lebih dikenal dengan nama Pasar Senen Batak. Para pedagang di lokasi ini menjual berbagai segala kebutuhan perlengkapan adat batak. Para pedagang perlengkapan adat Batak sudah ada sejak 1978 meski saat itu ada di kaki lima depan lokasi sekarang.

Masyarakat suku batak yang merantau di Jakarta hampir bisa dipastikan mengenal Pasar Inpres di Pasar Senen Blok IV. Sangking kenalnya, sampai-sampai komunitas batak menyebut pasar ini dengan nama Pasar Senen Batak. Maklum, di pasar ini tersedia berbagai kebutuhan khas orang batak. Mulai dari bahan makanan khas batak seperti andaliman, mi lidi, asam gelugur, dan ikan rebus, hingga busana khas batak, khususnya ulos.

Cukup mudah mencari sentra ini. Selain sudah terkenal di sekitar Senen, sentra ini tepat berada di samping terminal bis Senen. Tepatnya di gedung Pasar Inpres yang bercat hijau.

Ulos, adalah salah satu barang dagangan yang banyak dicari orang di sini. Maklum, kain tradisional ini punya arti penting dalam kehidupan orang batak, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Ibarat kata, ulos itu bak ijuk mengikat pelepah pada batangnya. Artinya, ulos menjadi pengikat kasih sayang di antara sesama.

Pengunjung Pasar Batak ini tidak hanya datang dari Jakarta tapi juga datang dari daerah sekitar Jakarta, seperti Bandung. "Sepengetahuan saya ini adalah satu-satunya sentra ulos di Jakarta," kata Boru Simbolon pemilik toko Mixon Sinaga.

Boru Simbolon berjualan ulos sejak Pasar Inpres Senen berdiri tahun 1978. Sebelumnya, pedagang ulos berjualan di Jalan Kenanga, depan gedung Pegadaian, Jakarta Pusat. Setelah pemerintah melarang pedagang kaki lima, "Para pedagang termasuk penjual ulos dipindah ke sini," ujarnya.

Saat pindah ke Pasar Inpres ini, pedagang hanya perlu menunjukkan Kartu Tanda Penduduk. Dan, "Hanya pedagang pribumi yang boleh berjualan di sini," ujar Boru Simbolon. Dari yang awalnya hanya 10 pedagang ulos, kini jumlahnya sudah berkembang menjadi 500 pedagang.

Boru Simbolon menjual ulos dengan rentang harga Rp 50.000 sampai Rp 1 juta per helai. Ia pun menjual songket palembang dengan harga Rp 1 juta -Rp 5 juta.

Sementara Marti Ulus, pemilik toko Marti Ulos telah berjualan ulos di sentra ini selama 20 tahun. "Saya melanjutkan usaha ini dari orang tua saya," ujarnya. Marti menjual ulos dari harga Rp 50.000 -Rp 800.000 per helai. Ia mendapat pasokan ulos dari pedagang yang mengambil ulos dari Sumatra Utara.

Panjaitan, pemilik toko Juli Ulos, menjual ulos dari
Rp 50.000 sampai Rp 6 juta. Ia juga menjual songket dari harga Rp 400.000 sampai jutaan per helai. Panjaitan menjual ulos toba, simalungun, dan karo. Sedangkan songketnya antara lain songket padang dan palembang. Istrinya bertugas mengambil kain-kain itu dari penenun.

Para pedagang ulos menangguk rezeki saat banyak pernikahan. Maklum, sesuai dengan adat batak, keluarga pengantin perempuan harus memberikan ulos. Keluarga dekat biasanya membawakan ulos yang bagus, sedangkan keluarga jauh cukup membawa ulos biasa. "Karena itu, yang paling sering terjual ulos yang harganya murah," ujar Panjaitan.

Meski ada 500 pedagang, tidak ada banting-banting harga di pasar ini. Kata Panjaitan pedagang tidak bisa seenaknya menaikkan harga karena pembeli sudah tahu kisaran harga ulos.

Dikutip dari kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua