Lain-lain
 
Rabu, 02/07/2014
MENGULUR PELUANG BISNIS MIE KOTA

Meski banyak yang mengakui kerenyahan opak buatan Cigondewah, tapi penjualan opak di daerah ini sudah tidak serenyah dulu lagi. Banyak orang kini beralih ke makanan lain yang dianggap lebih enak dan kaya dengan pilihan rasa.
Kondisi ini dirasakan betul oleh Wulan Ratna, salah seorang produsen opak di Cigondewah. Menurut Wulan, dulu penjualan opak selalu ramai. Omzetnya dalam sehari bisa mencapai Rp 1 juta.
"Tapi sekarang omzet di hari biasa paling Rp 500.000–Rp 700.000," kata Wulan yang sudah 12 tahun menekuni usaha pembuatan opak. Begitu juga dengan omzet di bulan puasa dan Lebaran yang cenderung menyusut dibanding tahun-tahun lalu.
Penurunan omzet itu disebabkan banyaknya pilihan makanan di pasaran. Di Jawa Barat sendiri ada banyak camilan khas daerah, seperti kue moci, dodol, keripik dan lain-lain.
Nah, semaraknya bisnis camilan ini berpengaruh terhadap omzet produsen opak. Soalnya, mereka kini harus rela berbagi pasar dengan para produsen makanan lain.
Sementara persaingan dengan sesama produsen opak sendiri tidak terlalu mengganggu. Soalnya, masing-masing produsen opak di kawasan ini sudah memiliki penampung sendiri di lokasi berbeda-beda.
"Di sini tidak ada persaingan, biasa-biasa saja karena sudah ada yang menampung setiap dua hari sekali. Jadi ya tidak pengaruh, " kata Wulan.
Sebenarnya, banyak upaya yang sudah dilakukan produsen opak agar bisa menyaingi produk makanan lain. Di antaranya dengan menambahkan rasa pada opaknya. Wulan sendiri pernah mencoba membuat opak rasa keju, jeruk nipis dan lain-lain.
Namun, opak tersebut kurang diminati. Sampai saat ini, yang bertahan hanya empat varian rasa. Yakni rasa kelapa, balado hijau, cabe merah, dan kacang. Ia mengakui, meski rasa opaknya lebih bervariasi dibanding dengan produsen opak lainnya, hal itu belum juga bisa mendongkrak penjualannya.
Eutik Rohanah, produsen opak lainnya juga merasakan hal yang sama. Menurutnya, banyak konsumen kini mulai berpaling dari opak. Ia bilang, pelanggannya malah banyak dari luar Bandung atau luar Jawa Barat.
"Jadi kebanyakan sasaran kami itu pedagang yang berjualan oleh-oleh di sekitar terminal Leuwi Panjang atau pedagang di sepanjang Jalan Soekarno Hatta, " kata dia.
Namun, Eutik masih optimistis bisnis opaknya masih bisa berkembang. Menurutnya, ceruk pasar opak tetap ada. Soalnya, banyak juga orang yang sudah fanatik dan suka dengan makanan ini.
Buktinya, kata dia, banyak pedagang dari daerah lain datang ke rumahnya membeli opak dalam jumlah besar. Eutik sendiri tidak keberatan bila opaknya yang diberi merek Pakda, diganti oleh pedagang dengan merek lainnya. Sumber : peluangusaha.kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua