Lain-lain
 
Rabu, 06/05/2014
USAHA KENTANG GORENG MASIH LEGIT

JAKARTA. Camilan satu ini rasanya sudah menjadi kegemaran banyak orang Indonesia. Selain jadi menu pelengkap sajian ayam goreng di resto cepat saji, kentang goreng juga makin umum dijajakan di berbagai sudut kota sebagai menu utama.

Seiring dengan permintaan yang tinggi, tawaran kemitraan kentang goreng juga menjamur. Sebut saja beberapa brand yang pernah KONTAN ulas, seperti Pota Potatoes. Perkembangan usaha kemitraan kentang goreng itu beragam. Dari ketiga merek usaha tersebut, ada yang tidak terlalu agresif menambah mitra, namun, ada pula yang masih terus menambah mitra.

Bagaimana para pelaku usaha ini mengatur strategi agar terus bertahan? Simak ulasan terbarunya berikut ini.

Pota Potatoes

Gerai Pota Potatoes mulai berdiri sejak Oktober 2006 di Bandung, Jawa Barat. Di bawah bendera Pioni Adya Group (PAG), brand ini mulai mengembangkan sayapnya dan membuka tawaran kemitraan di tahun 2009.

Ketika KONTAN mengulas tawaran ini pada tahun 2013, tercatat Pota Potatoes sudah memiliki 183 gerai yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Saat ini gerainya makin berkembang hingga memiliki sekitar 200 gerai. Perinciannya, 11 milik pusat dan sisanya milik mitra. "Lokasi mitra kami dari Aceh hingga Sorong, Papua," urai Dana Prihadi, Pemilik Pota Potatoes.

Dana menilai, usahanya berkembang cukup baik lantaran gencarnya promosi. Selain aktif promosi di media massa, tak jarang, mitra usahanya dijadikan sebagai alat promosi. Caranya, meminta mitra Pota Potatoes memberikan testimoni positif mengenai bisnis yang ia jalankan.

Hal ini menyebabkan calon mitra menjadi kian tertarik berbisnis bersama Pota Potatoes. Tak jarang, berkat testimoni itu banyak calon mitra baru yang tertarik untuk bergabung. Meskipun kompetitor semakin banyak, Dana tetap optimistis bisa tetap bersaing. Ia menyiasatinya dengan rajin menambah menu baru, seperti pota hasbro, pota finchi, dan stik kentang bumbu mayones.

Selain berbentuk stik, ada pula bentuk nuget. Sejauh ini, walaupun harga bahan baku sudah naik, Dana belum mengerek naik harga jual produk. Satu porsi Pota Potatoes masih dibanderol Rp 6.000 hingga Rp 12.000.

Paket investasi yang ditawarkan pun masih sama. Pota Potatoes menawarkan tiga paket investasi. Paket booth dengan besaran investasi Rp 5 juta dan Rp 7 juta. Kerjasama usaha berlaku masing-masing tiga tahun dan lima tahun.

Sementara, paket ketiga adalah paket lengkap. Investasinya Rp 30 juta. Dana bilang, kebanyakan mitra memilih paket lengkap karena mitra tidak ingin repot-repot membeli perlengkapan sendiri.

Agar usahanya bisa bertahan dan semakin berkembang, Dana berniat lebih gencar lagi berpromosi. Bukan hanya di media cetak, tapi juga merambah promosi di radio. Ia menargetkan bisa memiliki total 250 gerai Pota Potatoes hingga pengujung tahun ini. Pota Potatoes mengincar mitra baru yang berlokasi di Indonesia Timur, seperti Sulawesi dan Ambon. Silakan Anda pertimbangkan lagi mana tawaran kemitraan yang paling cocok.

Di mata konsultan waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim, potensi bisnis camilan seperti kentang goreng masih cukup menarik. Ini dilihat dari data pertumbuhan mitra yang dapat terjaring seperti yang di ulas kali ini. Selain itu, Erwin bilang, ini juga didorong oleh kecenderungan terjadinya demonstration effect.

Maksudnya adalah proses meniru pola hidup yang dilakukan oleh kelompok lain. Erwin menjelaskan, dalam hal ini, kebiasaan memakan kentang pada awalnya hanya dilakukan oleh kalangan atas dan orang-orang Barat. Namun saat ini rupanya masyarakat kelas menengah juga sudah mulai terbiasa memakan kentang. “Baik remaja ataupun anak-anak juga terlihat pola makannya saat ini sudah berubah,” ujar Erwin.

Ia memperhatikan, anak-anak yang pergi ke sekolah sudah mulai banyak yang cukup membawa bekal kentang saja, tidak lagi harus nasi melulu seperti dahulu.

Melihat hal tersebut, Erwin menilai prospek bisnis kentang goreng masih akan bersinar ke depannya. “Ini dilihat dari indikasi yang terjadi di masyarakat seperti yang saya jelaskan itu,” ucap Erwin.

Ia mengatakan, pengaruh dari Barat pun memasuki sektor kuliner. Karena ternyata tanpa disadari telah terjadi perubahan dalam pola makan masyarakat Indonesia. Namun Erwin mengingatkan, di bisnis makanan seperti ini kualitas harus selalu dijaga.

Erwin menilai, penggunaan penyedap makanan dan bahan-bahan yang tidak sehat lainnya harus selalu dikontrol oleh pebisnis di makanan ini. Ini agar kesehatan konsumen tetap terjaga. Sumber : peluangusaha.kontan.co.id

Kembali | Lihat Semua