Lain-lain
 
Sabtu, 03/05/2014
SUKA JUAL LANGSUNG KETIMBANG BUDIDAYA

Sebagai daerah penghasil benih lobster, hampir semua nelayan di Dusun Awang, Desa Sengkol, Kecamatan Pusut, Kabupaten Lombok Tengah, berprofesi sebagai penambang benih lobster.
Benih yang ditangkap memiliki ukuran yang bervariasi dari 2,5 inci, 4 inci, dan 5 inci. Penambang benih lobster, Bani Alrudi, bilang, saat ini terdapat kurang lebih 2000-an keramba jaring apung maupun longline, yang menangkap benih lobster.
Selain itu, ada sekitar 100 unit keramba apung yang digunakan untuk membudidayakan pembesaran lobster di Lombok Tengah.
Ia mengakui, masih sedikit nelayan yang tertarik membudidayakan benih lobster karena proses budidayanya membutuhkan waktu lama. Yakni, delapan bulan hingga setahun.
Jadi, banyak nelayan lebih suka langsung menjual hasil tangkapan benih lobster. Bani sendiri memilih membudidayakan lobster di Dusun Gerupuk, Lombok Tengah.
Dia mulai bertambak benih lobster pada tahun 2005. Kendati prosesnya lama, budidaya lobster lebih menguntungkan karena harga jualnya jauh lebih mahal.
Fahmid, pembudidaya lobster lainnya, mengakui masih sedikit nelayan yang tertarik menekuni usaha pembesaran lobster.
Tapi Fahmid memahami, lantaran masa pembesaran lobster, yang mencapai satu tahun, pendapatan nelayan bisa menurun. Makanya, mereka memilih langsung menjual benih lobster yang telah ditangkap dari laut.
Fahmid melihat, sudah ada upaya dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menekan ekspor benih lobster, dengan menerbitkan peraturan daerah yang membatasi penjualan benih lobster ke luar daerah.
Upaya ini dilakukan agar pasokan benih lobster tetap terjaga. Bila peraturan yang masih disusun ini terbit, benih lobster tidak bisa dijual secara bebas di pasaran.
Menurut Fahmid, pada prinsipnya, nelayan setuju dengan semangat pemerintah untuk mengembangkan usaha budidaya lobster ini.
"Kebanyakan orang luar negeri seperti Vietnam, Australia, dan Hong Kong, membeli benih dari Indonesia. Tapi ia mampu membudidayakan benih sendiri, berbeda dengan Indonesia yang hanya siap menjual saja," urai Fahmid.
Maka kendati berpotensi menurunkan pendapatan nelayan, Fahmid tak menolak rencana pembatasan ekspor benih lobster ke luar negeri.
Namun, Fahmid menyarankan, pemerintah harus segera memberdayakan masyarakat agar proses pembenihan lobster tidak terlalu lama. "Yang saya tahu, seperti di Australia itu ada alatnya, jadi proses pembesaran tidak memakan waktu terlalu lama," terangnya.
Bani juga merespon keinginan Pemprov NTB yang ingin membatasi penjualan benih lobster. Namun, ia juga meminta petani lobster di tempatnya diberdayakan terlebih dahulu. Menurut dia, harus ada terobosan agar proses pembesaran lobster tidak memakan waktu terlalu lama.
Selain itu, perlu juga dicarikan teknik budidaya yang dapat menghasilkan benih dengan kualitas baik. Menurut Bani, saat ini pembenihan lobster belum bisa dilakukan secara maksimal. Benih hasil budidaya banyak yang tidak bisa bertahan lama.
Sejauh ini, Bani masih mengandalkan pasokan benih lobster dari laut. Pria yang biasa dipanggil Rudi ini bisa mendapatkan puluhan hingga ratusan benih lobster setiap hari dari laut.
Bani mengatakan, ia sedang mencoba mengembangkan agar lobster bisa dikembangbiakkan, terutama dari sisi teknologinya. "Jika mengandalkan dari laut saja sifatnya musiman, jumlah lobsternya juga akan semakin menipis," kata Bani.

Kembali | Lihat Semua