Lain-lain
 
Senin, 18/04/2011
BERAGAM INOVASI DAN KREASI DARI ECENG GONDOK

Eceng gondok bagi kebanyakan orang dianggap sebagai tanaman pengganggu karena bisa merusak lingkungan perairan. Proses pertumbuhannya yang sangat cepat bisa menyebabkan lingkungan tumbuhnya seperti sungai bisa tersumbat aliran airnya. Begitu juga dengan masyarakat yang berada di lingkungan waduk dan danau, pesatnya pertumbuhan eceng hingga memenuhi perairan bisa menghalangi aktivitas yang biasa mereka lakukan seperti mencari ikan, aktivitas wisata, menjalankan perahu, hingga keramba apung. Namun bagi orang yang jeli memanfaatkan peluang, eceng gondok bisa menjadi bahan baku pengolahan aneka kerajinan yang bisa menembus pasar ekspor. Hal itulah yang berhasil ditekuni Heru Budiantoro (32) warga Piring II Murtigading Sanden Bantul, yang mendirikan Luthfi Craft sebagai salah satu supplier aneka kerajinan dari eceng gondok kering.

Memulai usaha sejak tahun 2003, Pak Heru mengaku awal mula menjalankan usaha tersebut hanya sebagai sambilan disamping kerja pokoknya di sebuah bengkel mobil. “Ketika bekerja di bengkel saya bertemu dengan salah satu supplier kerajinan yang menawarkan untuk memproduksi kerajinan eceng gondok, kemudian saya tawarkan kepada tetangga-tetangga yang telah lebih dulu ‘maen’ di eceng hingga berlanjut sampai sekarang,” terang Pak Heru tentang awal mula menjalani usaha tersebut. Sejak saat itulah, Pak Heru yang mendapat support dari istrinya memberanikan diri mendirikan Luthfi Craft sebagai nama usaha produksi aneka kerajinan eceng gondoknya.

Peluang Usaha Enceng GondokSaat tim liputan BisnisUKM mengunjungi rumah yang sekaligus sebagai lokasi produksi Rabu (6/3), Pak Heru dan beberapa tenaga produksinya sedang sibuk melayani pesanan aneka keranjang dan plismet dari salah satu perusahaan trading lokal Jogja. Diakui Pak Heru, saat ini Luthfi Craft sudah mampu memproduksi ratusan jenis produk berbahan baku eceng gondok. Ide dan design produk-produk tersebut merupakan kreasi sendiri dan inovasi sendiri dari Pak Heru. “Dalam menjalankan usaha kerajinan, yang paling penting adalah inovasi produk, sehingga para buyers tidak akan bosan dengan produk kita,” terang Pak Heru. Alhasil, saat ini Luthfi Craft mampu menggandeng 6 perusahaan trading yang mampu memasarkan produknya hingga ke Amerika, Australia, Jerman, Spanyol, dan negara Eropa lainnya.

Bahan baku produksi didatangkan langsung dari Rawa Pening Ambarawa seharga 1,4 juta per truk dalam kondisi basah. Selanjutnya eceng gondok tersebut dijemur di Pantai Trisik Kulonprogo sekitar 2 minggu atau sesuai dengan kondisi cuaca. “Proses penjemuran sangat bergantung dengan kondisi cuaca, kalau cerah maka biasanya hanya perlu waktu 1 minggu, namun saat cuaca tidak mendukung bisa memakan waktu hingga 2 minggu,” imbuh Pak Heru tentang proses penjemuran eceng gondok.

Eceng Gondok KeringMenurut Pak Heru, saat ini Luthfi Craft hanya melayani pesanan baik eceran hingga dalam jumlah yang besar. Kondisi eceng gondok yang mudah terkenda jamur dan dimakan rayap menjadi alasan Pak Heru tidak membuat stok produk dalam jumlah banyak. Beberapa produk yang sering diproduksi dan mendapat pesanan antara lain plismet, keranjang, box, dan tempat duduk stool. Harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung jenis dan ukuran produknya. Yang paling murah adalah tatakan gelas/ coaster seharga Rp.2.000,00; sementara yang paling mahal adalah kursi seharga Rp.150.000,00/ pcs. Dengan harga seperti itu, Pak Heru mengakui jika dalam sebulan Luthfi Craft mampu memperoleh omzet rata-rata 4 juta rupiah dengan keuntungan bersih 10 %.

Seperti kebanyakan usaha yang lain, Pak Heru berujar jika selama menjalankan usahanya tersebut modal sering menjadi kendala yang harus dihadapi. Untuk itu, saat ini beliau juga menginvestasikan keuntungan yang didapat dengan membangun usaha konter pulsa. “Saat ini ada empat buah konter pulsa yang kami miliki,” jelas Pak Heru. Namun produksi eceng gondok masih menjadi prioritas bapak satu orang putra tersebut. Beliau memiliki prisip selama eceng gondok masih bisa dikreasi menjadi beragam produk kerajinan, maka dirinya akan terus berkarya dan menciptakan produk-produk inovasi baru dengan bahan baku eceng gondok.

Di akhir wawancaranya, Pak Heru yang kini memiliki 30 tenaga produksi mengakui jika menjalani usaha di bidang kerajinan seperti eceng gondok harus siap mental. Hal tersebut dikarenakan selama ini meskipun melayani banyak pesanan namun keuntungan yang didapat tidaklah banyak. “Saat ini jika ingin mengambil banyak keuntungan resikonya produk tidak akan laku karena persaingan harga yang sangat ketat diantara sesama pengrajin,” kata Pak Heru. Sehingga saat ini beliau mengaku bersyukur masih sering mendapatkan pesanan baik eceran maupun partai besar. Sementara banyak usaha sejenis yang memilih gulung tikar karena kurangnya inovasi dan persaingan harga yang sangat ketat.

Dikutip dari bisnisukm.com

Kembali | Lihat Semua