Lain-lain
 
Jumat, 13/02/2014
SERAT PISANG ABAKA, POTENSI USAHA DI DAERAH PERBATASAN

MANADO, (SeputarUKM) – Daerah perbatasan NKRI di Sulut ternyata menyimpan suatu potensi bisnis yang menggiurkan. Salah satunya ialah serat pisang abaka (muxa textilis) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas uang.

Pisang Abaka merupakan jenis tanaman endemik yang hanya tumbuh di daerah Filipina, Ekuador dan Sulut khususnya di Kepulauan Talaud. Kabupaten Kepulauan Talaud sendiri, berjarak sekitar 271 mil dari Kota Manado.

Pada akhir 2013, jumlah penduduk Talaud tercatat sebanyak 84.747 jiwa yang menempati 16 pulau kecil dengan total luas daratan 1.371, 40 km. Pada mulanya, masyarakat hanya memanfaatkan serat pisang abaka untuk tali-temali kapal nelayan, tetapi seiring dengan perkembangan teknologi ternyata serat pisang ini memiliki banyak produk turunan.

Beberapa produk turunan serat pisang abaka antara lain tali kapal, kertas saring, kertas stensil, kertas rokok, kertas uang, masker atau pakaian modis, tas, tempat tidur gantung dan masih banyak lagi. Kajian Bank Indonesia Perwakilan Sulut menemukan permintaan dunia terhadap serat pisang abaka mencapai 600.000 ton per tahun.

Namun, sejauh ini baru terpenuhi sekitar 15% atau hanya 90.000 ton per tahun yang dipasok dari Filipina sebanyak 80.000 ton dan Ekuador sebanyak 10.000 ton. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut Luctor E. Tapiheru mengatakan, serat pisang abaka dari Talaud merupakan salah satu yang terbaik di dunia, sehinga pemerintah perlu melihat potensi daerah perbatasan khususnya Talaud.

“Kami memberikan perhatian lebih kepada pengembangan serat pisang abaka di Talaud karena merupakan produk unggulan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Luctor mengatakan, Bank Indonesia sejak 2012 terus mendukung pengembangan pisang abaka dengan memberi bantuan bibit sebanyak 13.500 anakan untuk lahan seluas 13,5 hektare.

Dia menjelaskan, pemerintah Kabupaten Talaud juga mengembangkan pisang abaka di atas lahan seluas 5.000 hektare dengan produktivitas mencapai 2-4,5 ton per hektare. Ke depan, pihaknya memproyeksikan produksi dapat ditingkatkan menjadi 20.000 ton per tahun, sehingga dapat memenuhi kebutuhan nasional dan global.

Bank Indonesia Sulut mencatat, saat ini jumlah pisang abaka yang siap panen sebanyak 327.000 rumpun pohon di atas lahan seluas 327 hektare. Jumlah itu setara dengan produksi serat abaka basah sebanyak 1.471, 5 ton per tahun atau senilai Rp4,41 milar dan serat kering sebanyak 500,31 ton per tahun atau senilai Rp3 miliar.

Hingga sejauh ini, baru terdapat dua investor yang telah memanfaatkan serat pisang abaka yakni PT Dharma Bumi Berdikari (DBB) dan PT Kertas Leces (Persero). DBB merupakan importir dari perusahaan serat terkemuka Amstrong di USA, sementara PT Kertas Leces (Persero) merupakan BUMN yang telah memanfaatkan serat pisang abaka sebagai bahan pembuat kertas uang. “Ini menunjukkan salah satu potensi perbatasan yang bisa digali dan memiliki manfaat yang luas,” ujarnya.

Kembali | Lihat Semua