Lain-lain
 
Jumat, 16/01/2014
BISNIS ABON BAYI INI BISA DATANGKAN OMZET RP 80 JUTA/BULAN

Jakarta -Oktavia Hasim (33) alumni STIT, pemilik PT Pradipta Jaya Food asal Malang, Jawa Timur, bisa jadi orang yang beruntung. Rencana bisnisnya untuk membuat sebuah produk makanan olahan abon justru menghasilkan ide baru yang cemerlang.

"Awalnya membuat produk ini karena saya ingin membuat abon untuk bisnis, tapi bukan untuk balita. Tapi entah kenapa abon yang saya eksperimen malah jadinya abon untuk bayi," kenang Oktavia salah satu peserta Wirausaha Muda Mandiri, kepada detikFinance, Rabu (15/1/2014)

Ia juga tak menyangka ide awalnya yang menurutya biasa-biasa saja jadi ide baru yang segar. Maklum saja, umur-umur balita sangat sering mengalami gangguan sulit makan, keberadaan abon untuk balita bisa membantu selera makan seorang anak.

"Abon ini dapat digunakan bayi usia 8-10 bulan ke atas. Untuk rasanya ada rasa lele, patin, ayam, sapi dan salmon," katanya.

Meski menjual prodak olahan yang bahan bakunya umumnya daging dan berharga mahal. Ia tetap menawarkan harga produknya agar tetap bisa terjangkau masyarakat, misalnya yaitu kemasan abon lele, ikan patin dan lele ayam hanya Rp 25.000 sedangkan produk abon salmon harganya relatif mahal Rp 50.000 per bungkus.

"Cara menggunakan abon bayi ini hanya tinggal campurkan adonan ini ke nasi atau bubur banyaknya tergantung selera dari ibu, atau bisa juga dicampur dengan sayur lain," terang Oktavia

Ia menjamin produk abonnya tanpa bahan pengawet namun bisa tahan hingga 1,5 tahun karena tingkat keringnya sangat tinggi. Biasanya untuk 1 kemasan sudah habis dalam waktu 1 minggu."Saat ini kami ada 15 orang pekerja, dan 150 reseller di seluruh Indonesia meskipun sebagian besar masih di pulau Jawa," kata

Ia mencerikan awal bisnisnya hanya bemodal Rp 5.200. Namun sejalan berkembangnya bisnis abonnya, kini dari modal yang sangat kecil itu bisa meraup omzet per bulan mencapai Rp 75-80 juta per bulan.

Sebagai pemenang kompetisi wirausaha muda mandiri, ia merasa senang dan jadi bersemangat. Ia menargetkan bisa semakin banyak membuat varian rasa abon dari berbagai bahan baku pangan yang ada di masyarakat.

"Pokoknya target ke depan berikutnya mau buat abon vegetarian dari wortel sawi dan lain-lain. Setiap tahun harus bisa membuat produk baru pokoknya," katanya bersemangat.

Sebagai produk yang menyasar segmen anak-anak khususnya balita, ia sudah melakukan uji gizi terhadap produknya. Dari sekian produk, abon sapi yang paling tinggi nilai gizinya, namun abon dari ikan lele juga tak kalah baik.

"Makanya kami ingin mengembangkan untuk abon lele karena lebih murah dan lele itu lebih gampang bahan bakunya," ucapnya.

Kembali | Lihat Semua