Lain-lain
 
Rabu, 08/01/2014
MANISNYA BISNIS KEDAI KOPI, DARI BUDAYA MENJADI PELUANG USAHA

Budaya minum kopi kini tak lagi didominasi oleh segelintir orang. Kebiasaan meminum kopi kini telah bertransformasi menjadi sebuah tren dan gaya hidup. Tua atau muda, pria atau wanita, menggemari minuman berwarna hitam pekat itu.

Sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman setia di pagi hari sembari membaca koran. Ada pula yang menjadikan minuman kopi sebagai minuman wajib tatkala berbincang bersama temantemannya.

Tren penikmat kopi yang semakin meluas ini tentu saja menjadi ladang bisnis basah bagi sebagian orang yang jeli melihat peluang. Tak heran, bisnis coffee shop pun mewabah di mana-mana.

Heri Setiadi adalah salah satu pemain di bisnis ini. Dunia kopi memang bukan hal yang baru bagi Heri. Pria lulusan Akademi Perhotelan Les Roches Bluche di Swiss ini telah lama berkecimpung di dunia kopi, karena pernah bekerja sebagai Sales Manager Nescafe dan Operasional Manager di Excelso Café.

Gagasan untuk membuka kedai kopi berawal dari ketidaksengajaan. Pada 2000, ketika pria kelahiran Bandung 17 November 1972 ini, sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan, dia melihat sebuah booth kopi yang tidak terpakai dan akan dijual oleh pemiliknya.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Heri pun bergegas membeli booth tersebut seharga Rp6 juta. Selain booth, Heri juga mendapatkan peralatan lain berupa satu unit mesin kopi mini, satu unit mesin kasir, cangkir kopi, biji kopi Italia merek Illy Coffee dan bahan baku lainnya. Peralatan sudah ditangan.

Namun, ketika berhadapan dengan pilihan lokasi, Heri berpikir keras. Dirinya ingin agar lokasi yang nantinya menjadi tempat dagangannya itu akan mendatangkan berkah bagi usahanya.

Mal Ambassador Kuningan, Jakarta Selatan, akhirnya menjadi pilihannya. Di atas lahan seluas 6 meter persegi, Heri memulai bisnis itu. Biaya sewa tempat kala itu sebesar Rp500.000 per bulan. “Jadi modal yang saya keluarkan sekitar Rp6,5 juta,” ujar Heri kepada Bisnis.

Gerai kopi pertama ini diberi nama La Tazza yang dalam bahasa Italia berarti cangkir. Selain di Mal Ambassador, Heri juga membuka cabang lainnya di Electronic City, SCBD Sudirman, Jakarta Selatan.

Kedua kawasan ini menjadi pilihan Heri karena alasan lokasinya yang sangat strategis, berada dekat dengan kawasan perkantoran.

Pengalaman bekerja di salah satu kedai kopi ternama, diakui Heri, sangat membantunya dalam memulai bisnis tersebut. Namun, Heri juga tak putus belajar meracik kopi untuk menemukan cita rasa yang berbeda.

“Saya sering mencampur bahan-bahan untuk menciptakan varian kopi yang baru. Awal-awalnya sering gagal dan korbannya adalah teman dan keluarga,” ujar Heri seraya tertawa.

Inovasi itu, sambung Heri, sangat penting. Di tengah persaingan kedai kopi yang makin sengit, dibutuhkan inovasi baru untuk menghasilkan kopi dengan varian yang unik dan tidak umum.

Umumnya, para pelaku usaha hanya menjual varian rasa Cappuccino, Black Coffee, Espresso, dan Coffee Latte dengan rasa yang standar. Jika ingin dikenal pasar dan digemari, Heri menyadari satu-satunya langkah yang harus dilakukan adalah menciptakan sesuatu yang berbeda.

La Tazza sendiri menyuguhkan varian menu yang cukup beragam, mulai dari Single Origin Coffee, Espresso, Cappuccino, Caffe Latte, Caramel Latte, Vanilla Latte, Avocado Coffee, Cookies N’ Cream, Caffe Amarulla, Kopi Tubruk dan Vietnamese Iced Coffee. Minuman kopi itu disajikan dengan garnish sirup cokelat atau pun bubuk kayu manis (cinnamon).

Berbagai varian rasa itu merupakan hasil inovasi dan kreasi Heri, ditambah dengan bekal pengalaman sebelumnya. Produk kopi milik Heri itu dibanderol dengan harga yang bervariatif, mulai dari Rp14.545-Rp40.909 per cangkir.

Dalam sehari, Heri mengungkapkan bisa kedatangan 100 pengunjung dari dua booth yang dia miliki. Rata-rata pendapatan mencapai Rp5 juta per hari atau Rp150 juta per bulan.

Pendapatan itu, tutur Heri, untuk mendanai biaya operasional per bulan Rp70 juta dan gaji enam orang pegawai per bulan Rp18 juta. Alhasil, keuntungan bersih yang diperoleh Heri dalam sebulan mencapai Rp62 juta.

Dalam menjalankan usaha ini, Heri mengakui tidak banyak menemui kesulitan. Hanya saja, dia cukup kerepotan jika bahan-bahan yang dibutuhkan sulit didapatkan. Namun, Heri tak habis akal.

Untuk mengakali hal tersebut, Heri juga menyediakan bahanbahan lain yang mampu menghasilkan minuman dengan kualitas yang tak kalah.

Ke depannya, Heri mengatakan akan terus berinovasi dengan produk kopi miliknya, dan dia juga menyimpan keinginan untuk memperluas usaha kopinya ini.

Diakui Heri, hingga saat ini, dia masih terus melakukan inovasi untuk menemukan varian baru. “Pasar terus berkembang. Permintaan yang muncul pun semakin beragam. Kalau tidak ada inovasi baru, kita akan kalah.”

Meningkatnya konsumen penikmat kopi di Indonesia ternyata juga menarik minat pelaku usaha lain yang ingin memanfaatkan momen menguntungkan ini. Adalah Vanti Ira, pemilik Coffee Shop Bengkulen, yang memilih bahan baku kopi Bengkulu sebagai produk andalannya.

Vanti Ira atau yang akrab disapa Ira, pada awalnya bukanlah penikmat kopi. Kecintaannya pada kopi ditularkan oleh sang suami yang tergolong sebagai pecinta kopi sejati.

Awalnya, saat berkesempatan pulang ke kampung halaman sang suami di Bengkulu, Ira sering menjadikan kopi Bengkulu sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan teman. Tak disangka, banyak yang menyukai buah tangan tersebut.

Respons tersebut ditangkap sebagai sebuah peluang usaha oleh Ira. Akhirnya, pada Desember 2010, wanita kelahiran Tanjung Karang, Lampung, 21 Agustus 1977 ini, memutuskan untuk membuka gerai kopi dengan nama Coffee Shop Bengkulen yang berlokasi di Ruko Canadian Broadway CBD 3, Kota Wisata, Cibubur, yang telah menjadi milik sendiri.

Kedai kopi milik Ira itu berdiri di atas lahan seluas 3m x 4m dan mengusung konsep mini bar, di mana para pengunjung dapat melihat langsung proses peracikan minuman. Meski kecil, Coffee Shop Bengkulen mampu menampung pengunjung hingga 33 orang.

Untuk membuka Coffee Shop Bengkulen ini, Ira mengeluarkan modal sebesar Rp 50 juta yang digunakan untuk membeli peralatan seperti grinder kopi, mesin mixer, mesin pembuat es batu, kulkas, dan booth berukuran 2m x 3m serta peralatan hidangan dan bahan baku.

Coffee Shop Bengkulen menghadirkan kopi Bengkulu yang dibagi dalam tiga jenis kopi yang berbeda yakni Robusta, Arabika dan kopi Luwak. Ketiga jenis kopi ini memiliki ciri khas tersendiri.

Kopi Robusta memiliki rasa dan aroma yang lebih ringan bahkan cenderung netral jika dibandingkan dengan kopi Arabika yang terkenal memiliki aroma yang lebih tajam dan rasa yang lebih asam. Adapun, kopi luwak yang biasa digunakan Ira diklaim memiliki rasa dan aroma yang kuat.

Istimewa

Salah satu keistimewaan sajian kopi ala Coffee Shop Bengkulen adalah rasa dan aromanya yang masih segar saat disuguhkan. Hal ini karena kopi dipasok setiap 1 bulan sekali dari perkebunan kopi di Bengkulu dalam keadaan masih segar dan baru dipetik.

Selain itu, proses penggorengan dan penggilingan biji kopi masih dikerjakan sendiri tanpa menggunakan jasa pihak lain. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rasa dan kualitas kopi yang dihasikan.

Bengkulen Coffee Shop menya jikan menu kopi dengan beberapa varian menu. Untuk menu yang diolah dari biji kopi Bengkulu, Ira membuat menjadi Black Coffee Single atau Double, Espresso Single atau Double serta Cappuccino.

Selain kopi Bengkulu, ada juga olahan dari kopi luwak, antara lain Single atau Double Kopi Luwak, Espresso Single atau Double Luwak, Espresso Vanilla Single Luwak, Milk Shake Vanilla dan Espresso Style Vietnam. Harga dibanderol mulai dari Rp6.500-Rp37.500 per gelas.

Meski masih tergolong sebagai pendatang baru di bisnis tersebut, omzet yang diraih Ira cukup menggembirakan. Untuk hari-hari kerja, Senin-Jumat, Ira bisa mendulang pendapatan hingga Rp1,8 juta per hari.

Pendapatan ini meningkat saat akhir pekan menjadi Rp2 juta per hari.

Bila diakumulasikan dalam 1 bulan, Ira mampu meraup pendapatan hingga Rp56 juta dengan keuntungan bersih mencapai Rp 32 juta, setelah dikurangi biaya operasional dan gaji pegawai. Dengan keuntungan itu, Ira hanya butuh 3 bulan untuk mengembalikan modalnya.

Saat ini, Ira dibantu oleh 5 orang karyawan. Mereka mengerjakan semua hal, mulai dari membuat kopi, menyajikan, hingga melayani pengunjung yang da tang. Masing-masing kar yawan digaji sebesar Rp1,5 juta per bulan.

Ira mengakui peluang bisnis kedai kopi semakin dilirik. Banyak pemain-pemain baru yang terus berdatangan. Namun, dia tetap optimistis kedai kopi yang mengusung cita rasa kopi asal daerah tersebut mampu bertahan di tengah gempuran cita rasa kopi lainnya. “Saya yakin karena ada beberapa hal yang menguntungkan bagi saya, yakni lokasi tempat yang strategis, dan harga yang sangat terjangkau.”

Ke depannya, Ira akan mencoba menambahkan beberapa varian baru dalam daftar menunya, agar tidak terkesan monoton. “Selain menjaga persaingan, ya biar pelanggan tidak bosan dengan menu yang itu-itu aja,” demikian Ira.

Kembali | Lihat Semua