Lain-lain
 
Kamis, 16/12/2010
BUDIDAYA TOKEK, SALAH SATU PELUANG USAHA MENARIK

SEMUA orang Indonesia pasti kenal binatang yang bernama tokek! Itu lho, cicak raksasa yang “bajunya loreng”, bintik- bintik, yang suka berbunyi: Tokek! … Tokek! … Tokek! Ada apa dia? Sejak awal tahun 2009, harga cicak raksasa ini, yang panjangnya minimal 8 cm, laku jutaan rupiah per ekor! Buat apa dia? Apa manfaatnya tokek buat manusia?

Menurut pengobatan tradisional Cina, tokek dapat dijadikan bahan dasar untuk mengobati penyakit tumor, mengobati gatal-gatal pada kulit. Daging, darah, dan empedu tokek juga dapat mengobati beberapa penyakit. Bahkan, lidahnya, dapat dijadikan sebagai obat HIV/AIDS.

Apa benar tokek bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS? Menurut penuturan salah seorang agen tokek di Pekanbaru (Maret 2009) yang bernama Yon Candra (32), lidah tokek bisa mengobati atau mematikan virus HIV/AIDS. Rumor itulah yang membuat warga Pekanbaru, Riau, “ramai-ramai” melakukan perburuan tokek.

Menurut Yon Candra, tokek yang laku dijual beratnya minimal harus di atas 3 ons dan masih keadaan hidup. Bagaimana caranya membuat obat HIV/AIDS dari binatang tokek?

Itu rahasia perusahaan! Yon Candra mengekspor tokek ke Thailand dan Cina. Di kedua negara itu ada orang yang dapat membuat obat HIV/AIDS dari tokek.

Sementara itu salah seorang dokter di Pekanbaru yang sering menangani kasus virus HIV/AIDS Burhanudin Agung dalam perbincangan dengan okezone mengatakan, sejauh ini dari beberapa riset dan percobaan belum ada satupun obat yang mampu menyembuhkan virus AIDS. Kata dokter Agung, yang namanya virus itu tidak bisa disembuhkan. Namun kalau untuk mempertahankan daya tubuh pasien, jika sudah terjangkit HIV/AIDS, itu baru ada, yakni Anti Retroviral (ARV) yang harganya cukup mahal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang belum pernah membenarkan bahwa tokek dapat dijadikan obat sejumlah penyakit. Juga Departemen Kesehatan RI belum pernah memberi rekomendasi tentang kasiat “cicak raksasa” ini. Namun para ahli pengobatan China mengembangkan obat tumor dari organ tubuh tokek. Alasannya? Karena di dalam organ tokek ada zat yang mampu menekan pertumbuhan sel-sel tumor. Tim yang diketuai Prof. Wang dari Universitas Henan, Cina, menunjukkan bahwa zat aktif tokek tidak hanya meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh dari suatu organisme, tetapi juga menginduksi sel-sel tumor apoptosis (yang membunuh dirinya sendiri) serta menekan ekspresi protein VEGF dan bFGF, faktor pendukung berkembangnya kanker. Tokek efektif dimanfaatkan untuk menghilangkan tumor ganas, terutama tumor di bagian sistem pencernaan yang dijadikan sebagai alternatif pengobatan, yaitu operasi, radioterapi, dan kemoterapi.

Maraknya penangkapan tokek beberapa tahun terakhir ini membuat harga tokek melangit. Apalagi ada isu, atau rumor, bahwa tokek dapat menyembuhkan virus HIV/AIDS. Yang jelas, baik WHO maupun Depkes RI, belum melakukan riset khusus mengenai hal ini. Anehnya, sejumlah anggota masyarakat sudah banyak yang percaya manfaat tokek bagi penyembuhan penyakit. Bahkan di beberapa daerah ada sejumlah masyarakat yang sudah melahapnya, entah langsung saat masih hidup, atau diolah lebih dulu. Konon, tokek juga bisa dijadikan jamu penambah gairah seks.

Sementara itu sejumlah orang mengaku manfaat tokek paling jos untuk mengobati penyakit asma. Tetapi daging tokek harus dijadikan tepung terlebih dulu. Konon tepung tokek dapat menyembuhkan penyakit asma secara efektif. Selain asma, tokek diyakini dapat mengobati impotensi, meningkatkan fungsi seksual pria, serta meningkatkan stamina. Tak hanya itu, tepung tokek terkadang dicampur dengan obat-obatan lain untuk menyembuhkan batuk dan flu. Dosis yang direkomendasikan adalah tiga sampai sembilan gram per hari, biasanya dikonsumsi dalam bentuk bubuk atau pil, bisa juga direbus dulu.

Kembali | Lihat Semua