Lain-lain
 
Senin, 10/09/2012
BISNIS PROPERTI

KOMPAS.com -- Lupakan sejenak harga batubara yang jatuh. Abaikan dulu meredupnya daya saing Indonesia, atau lepaskan kerisauan pada lemahnya daya serap pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Menarik melihat kondisi bisnis dalam negeri. Banyak bisnis yang cukup atraktif untuk digarap. Bisnis ritel, makanan, minuman, misalnya, tetap memesona. Begitu pula dengan bisnis logam mulia serta otomotif dan komponen otomotif. Semuanya berkibar seperti umbul-umbul dibelai angin.

Bisnis lain yang tidak kalah mengilapnya adalah properti, baik skala kecil maupun besar. Grup-grup besar lantas membangun proyek-proyek raksasa di DKI Jakarta dan sekitarnya. Geliat itu tampak pula di Bandung, Makassar, Medan, Surabaya, dan sekitarnya. Gencarnya pembangunan proyek baru itu sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar. Grup Agung Podomoro, Ciputra, Alam Sutera, BSD, Summarecon seolah berlomba membangun superblok atau sentra hunian baru.

Adapun di Surabaya, Grup Pakuwon terus melakukan ekspansi karena kuatnya permintaan pasar. Plaza Tunjungan yang sudah mencapai tahap empat diperluas sehingga muncul Plaza Tunjungan tahap lima dan enam. Di atas atau di sisi mal itu dibangun gedung multifungsi 55 lantai dan 50 lantai. Bangunan itu akan menjadi gedung tertinggi dan kedua tertinggi di Surabaya.

Itu sekelumit gambaran bisnis skala besar. Untuk skala kecil, para pebisnis berinvestasi habis-habisan di properti. Para pengusaha muda membeli rumah atau apartemen yang baru diluncurkan. Mereka membeli pada penjualan perdana, lalu melepasnya ketika proyek berjalan 50 persen atau baru selesai. Keuntungan yang diperoleh antara 50 dan 200 persen.

Gambarannya begini. Ada investor membeli proyek baru dengan harga Rp 1,8 miliar per unit. Ketika proyek selesai dibangun, setahun atau dua tahun kemudian, harga rumah sudah meluncur ke angka Rp 3,2 miliar. Dalam tempo satu atau dua tahun, nilai rumah melonjak Rp 1,4 miliar. Bisa dibayangkan kalau seorang pengusaha kelas menengah membeli 20 ruko, betapa besar keuntungan yang ia peroleh.

Ada pula yang suka menyerbu ruko yang dibangun para pengembang besar. Serbuan itu dilakukan karena ruko kini sangat disukai. Kendati belum ada tanda-tanda dibangun, pembeli sudah membeludak. Mereka menyukai produk ini karena likuid. Harga ruko umumnya paling cepat menanjak, lebih cepat dibandingkan dengan harga rumah. Stok ruko paling cepat disambar pembeli. Sebagian di antara pembeli ruko ini adalah para investor yang hendak meraup laba besar.

Patut diketahui bahwa bisnis dengan langgam seperti ini bukan bisnis dengan masa depan gemilang. Akan tetapi, tunggu dulu, dalam kondisi sekarang siapa yang hirau dengan jangka panjang atau tidak? Banyak yang berpikir meraih laba secepat mungkin dalam persaingan bisnis yang ketat sekarang ini.

Keuntungan yang diperoleh dari bisnis ruko itu bisa dipakai sebagai modal awal bagi pengembang kecil. Pengembang seperti ini biasanya membeli sebidang tanah untuk membangun lima sampai 20 ruko. Lalu melompat lagi ke proyek lebih besar dan seterusnya sehingga ia bisa menjadi pengembang yang diperhitungkan dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Kisah ini sekadar gambaran atas sebuah celah bisnis yang bisa dikembangkan.

sumber : KOMPAS.com

Kembali | Lihat Semua